Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi
sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan
sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,
demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing
menyertai dia.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 83; Roma 11; Ulangan 13-14
Rajawali
adalah burung yang terkenal dengan ketangguhannya menghadapi badai,
kekuatan sayapnya yang mampu terbang tinggi, dan ketajaman inderanya
saat mengejar mangsanya. Semua kekuatan yang didambakan burung mana pun
sepertinya dimiliki oleh burung rajawali. Namun kekuatan terbang burung
rajawali tidak datang dengan sendirinya.
Rajawali
selalu membangun sarang di pohon yang tinggi di puncak bukit yang
tinggi dan terjal. Ketika anak-anak rajawali lahir, induk rajawali
menjaganya dengan segenap hidup mereka. Semua kebutuhan anak-anak bayi
rajawali dipenuhi oleh induknya. Dengan kata lain, bayi rajawali kecil
tahu beres akan hidupnya dan tidakdikuatirkan oleh apa pun juga.
Tapi
ketika tiba saatnya bagi anak rajawali untuk belajar terbang, ‘tanpa
perasaan' induknya akan menjungkirbalikkan sarang yang selama ini
menjadi tempat berlindung yang nyaman baginya. Tidak tanggung-tanggung,
rajawali kecil itu akan terjun bebas beribu-ribu meter menuju batu-batu
tajam yang ada di bawahnya. Dalam kepanikannya, ia akan berusaha
mengepak-kepakkan sayapnya. Dan di detik terakhir sebelum ia menghujam
batu-batu tajam itu, induk rajawali dengan sigap menyambar anaknya,
membawanya terbang tinggi ke angkasa, dan menjatuhkan anaknya kembali.
Hal ini dilakukannya berulang-ulang sampai sayap anaknya menjadi cukup
kuat dan akhirnya ia mampu terbang sendiri.
Pada awalnya
mungkin saja anak-anak rajawali itu tidak mengerti maksud dari
‘kekejaman' induknya. Tapi ketika induknya melakukannya berulang-ulang,
ia pun mengerti dan menikmati proses belajarnya sampai akhirnya ia
bertumbuh menjadi rajawali yang perkasa, sama seperti induknya.
Demikian
juga dengan hidup kita. Saat kita masih menjadi bayi-bayi rohani,
seringkali kita mendapati segala kebutuhan dan keinginan kita terpenuhi
dengan instan. Tapi ada saatnya ketika kegoncangan itu datang dan kita
terjun bebas, sadarilah bahwa saat itu Allah sedang melatih Anda untuk
terbang. Karena kerinduan Tuhan yang terbesar adalah melihat Anda
menjadi kuat dan bertumbuh dalam pengenalan yang lebih dalam akan Dia.
Tidakkah Anda sadari justru di saat kesesakanlah kita mengalami
keperkasaan Allah kita secara nyata?
Jatuh itu anugerah.
Nikmati dengan penuh ucapan syukur dan jadilah kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar